Kamis, 17 November 2016

Menyemai Persatuan Umat Islam di Indonesia

Esai ini pernah diajukan dalam acara Silatnas Halaqah Bem Pesantren Se-Indonesia yang dilaksanakan pada 10-13 November 2016, di Kampus STIU Al-Hikmah Bogor.



Menyemai Persatuan Umat Islam di Indonesia
Oleh : Djati Purnomo Sidhi
Mengapa umat Islam di Indonesia yang jumlahnya begitu banyak belum bisa bersatu sampai saat ini? Mengapa terus saja ada polemik yang terjadi? Apa saja yang menghambat terjadinya persatuan di antara mereka? Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benak saya melihat fenomena yang terjadi dalam tubuh umat Islam di Indonesia dewasa ini.

Jumat, 10 Juni 2016

Sahabat Nabi, Kok Dicaci?



Para Sahabat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mereka adalah orang-orang yang menjumpai nabi, beriman kepadanya, dan wafat dalam keadaan muslim. Mereka adalah kaum Muhajirin dan Anshar. Orang-orang yang dipilih oleh Allah ta’ala untuk menemani dan menolong rasulNya dalam mendakwahkan agama Allah ‘Azza wa jalla. Pantaslah Allah menyebut keutamaan mereka dalam kitabNya;
((وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠ )) [التوبة : 100]
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS at-Taubah : 100)

Rabu, 18 Mei 2016

Rugi Besar Menjadikan Al-Qur'an Sebagai Pajangan

Hari-hari belakangan ini, mulai jarang kita dapati orang-orang yang meluangkan waktunya untuk membaca Al-Qur’an. Tidak seperti bertahun-tahun silam. Selepas waktu maghrib, rumah-rumah keluarga muslim ramai dengan suara penghuninya yang membaca Al-Qur’an. Bapak-bapak mengajari anak-anaknya yang masih belum lancar membaca Al-Qur’an, dibantu sang ibu. Bagi anak yang sudah lancar, mereka membaca sendiri disertai tartil dan suara yang merdu. Antara satu rumah dengan yang lainnya terdengar bacaan yang bersahut-sahutan. Sungguh, sekarang ini sulit sekali menemukan keadaan seperti ini.
Sesekali apabila kita sedang bertamu ke rumah tetangga cobalah perhatikan ruang tamunya, atau paling tidak perhatikan rumah kita sendiri, na’udzubillah akan kita dapati bahwa Al-Qur’an kini hanya menjadi penghias lemari ruang tamu. Dipajang dalam keadaan lusuh dan kotor, tertutupi oleh debu, karena jarang dipegang, apalagi dibaca pemiliknya. Pantasnya kita sebagai muslim merasa malu dan prihatin. Al-Qur’an kini sudah tergantikan oleh kotak ajaib, game playstation (ps), dan bacaan lain berupa majalah, novel, koran, komik serta beragam bacaan lainnya. Seakan tidak ada waktu lagi untuk dibaca dan ditadaburi ayatnya.

Senin, 16 Mei 2016

Anda Akan Kehilangan Hal Ini Ketika Bangun Kesiangan


Sobat, suatu hal yang menggembirakan kalau kita dapat bangun pagi setiap hari. Karena dengan bangun pagi kita dapat melaksanakan salah satu rukun Islam yaitu shalat subuh. Apalagi kalau yang laki-laki berjama’ah di masjid, wuiz pasti banyak pahalanya dan tambah gantengnya.
Dan ternyata gak semua orang bisa bangun pagi sobat. Ada orang yang waktu paginya jadi waktu yang efektif untuk mengarungi mimpi alias molor, karena malamnya dihabiskan untuk menatap layar monitor, nongkrong, maling mangga tetangga, dan segenap aktifitas lain. Nah pas masuk waktu subuh, langsung deh tarik selimut membayar ngantuk yang ditahan semalaman.
Ada satu hal yang tidak disadari orang-orang yang mengorbankan waktu paginya untuk tidur. Mereka menyia-nyiakan barakah pagi yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam;
اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
“Ya Allah ! berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dinilai shahih oleh al-Albani)
Barakah yang mengantarkan semangat untuk menjalani hari. Percikan barakah yang membuat hari kita semakin berwarna cerah. Suatu luapan barakah yang harus kita dapatkan dengan berlomba-lomba. So, jangan sia-siakan waktu pagi kita sob jangan sampai kalah sama ayam jago.

Imam Shalat Berjamaáh Haruskah Paling Tua?

Keadaan para imam shalat di kebanyakan masjid yang ada saat ini bisa dibilang memprihatinkan. Dengan tubuh yang renta karena sudah dimakan usia, ditambah dengan bacaan yang tidak jelas, tanpa memperhatikan kaidah-kaidah tajwid. Sehingga bacaannya terdengar belepotan bagi orang yang sudah mempelajari ilmu tajwid. Inilah keadaan yang membuat kita mengelus dada.

Imam shalat berjamaah mempunyai kedudukan dan keutamaan yang sangat besar. Dahulu Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjadi imam kubra (negara) ataupun imam shalat berjama’ah selama hidupnya. Hanya beberapa kali saja posisinya digantikan oleh orang lain. Seperti tatkala beliau sakit. Beliau menunjuk Abu Bakr sebagai imam penggantinya.

Boleh Memukul Selain Wajah Ketika Mendidik

  Islam mengajarkan berbagai macam cara dan langkah yang bisa digunakan untuk mendidik. Baik itu mendidik orang lain, ataupun mendidik keluarga. Mulai cara yang lembut dengan memberikan nasehat, kemudian memberi peringatan apabila dengan cara nasehat sudah tidak ‘mempan’ lagi. Sampai memukul pun diperbolehkan selama itu masih dalam koridor pendidikan.



Ada beberapa dalil yang membolehkan bagi seorang pendidik untuk memukul orang yang dididik apabila cara-cara sebelumnya sudah ditempuh. Akan tetapi tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Allah ta’ala menerangkan langkah yang harus dipakai oleh seorang suami apabila istrinya mulai terkena penyakit nusyuz (membangkang). Hal itu termaktub dalam firmanNya yang artinya; “….Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS an-Nisa’ : 34)