Kamis, 27 Oktober 2016

Kumpul Keluarga Jangan Jadikan Ajang Pamer dan Bangga Diri



Momen lebaran sering dijadikan ajang untuk kumpul keluarga. Dimana banyak anggota keluarga yang tadinya terpisah-pisah berkumpul bersama. Ada yang sedang kuliah di kota lain. Ada juga yang sudah Bekerja dan menetap di lain pulau. Lebaran lah yang menjadi ajang kebersamaan.
Selain berkumpul dengan keluarga sendiri, biasanya ketika lebaran juga diadakan acara kumpul keluarga besar. Yaitu keluarga yang berasal dari garis keturunan kakek/buyut yang sama. Bayangkan saja banyaknya orang yang berkumpul saat itu. Karena banyaknya keturunan.

Jumat, 08 Juli 2016

Syawal Bulan Peningkatan Ibadah


Bulan Ramadhan telah berakhir dengan terlihatnya hilal bulan Syawal. Alunan gema takbir bersahut-sahutan, mengagungkan Allah Tabaraka wa Ta’ala. Pekik kemenangan bersamaan dengan lantunan takbir menandakan telah tiba hari bergembira. Hari fitri yang ditunggu-tunggu.
Tak perlu berduka cita atas berlalunya bulan Ramadhan, apalagi menyiapkan karangan bunga. Bukan kepergian bulan Ramadhan yang perlu ditangisi, kalau sudah berusaha giat beribadah dan mengharap pahala. Sesalilah diri yang tidak bertambah ketaatan dan peningkatan dalam menjalankan ibadah.
Rangkailah bait-bait doa selama enam bulan kedepan. Ya Allah terimalah amalan-amalan kami selama Ramadhan.
Ya Allah ampunilah kami.
Ya Allah rahmatilah kami.
Sampai pada enam bulan, basahi lisan dengan lantunan doa enam bulan berikutnya. Ya Allah sampaikanlah kami kepada Ramadhan.

Kawah Candradimuka Ramadhan

Selama satu bulan atau kurang lebih 30 hari, umat muslim di seluruh dunia di gembleng dengan ibadah puasa di siang hari, dan shalat malam di malam harinya. Ditambah lagi dengan peningkatan ibadah yang besar-besaran di sepuluh hari terakhir, mengharapkan bertemu dengan satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Lebih baik dalam pahalanya, lebih baik dalam berkahnya.
Setelah serangkaian ibadah yang beraneka ragam, mulai dari puasa, shalat malam, membaca al-Qur’an, berdoa, berdzikir, sudah sepantasnya untuk menjadi pribadi yang baru ketika bulan Syawal tiba. Menjadi seorang hamba yang menyandang predikat al-Muttaqin, hamba Allah yang bertakwa. Karena memang itulah tujuan berpuasa dan menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.

Bulan Meningkatkan Ibadah

Tidak salah juga mengatakan bulan Syawal adalah bulan untuk meningkatkan ibadah. Baik dalam segi kualitas maupun kuantitas. Karena hamba-hamba Allah telah menjalani training selama bulan Ramadhan.
Dan sepantasnya sudah terbentuk kebiasaan yang baru, yaitu kebiasaan rajin beribadah. Terbiasa menahan lapar seharian tapi tetap melakukan pekerjaan. Maka di bulan Syawal pun produktivitas harusnya meningkat, karena sudah tidak perlu menahan lapar dan dahaga ketika bekerja.
Saat bulan Ramadhan biasa membaca al-Qur’an dengan keadaan mulut kering karena menahan haus, maka di bulan Syawal ini kebiasaan membaca al-Qur’an harus tetap, bahkan ditingkatkan lagi. Karena sudah tidak ada halangan rasa haus yang menyiksa tenggorokan. Begitu pun dengan sholat malam dan amalan ibadah yang lainnya.

Masih Ada Amalan Lain

Setelah berpuasa penuh selama sebulan, masih ada amalan lain saat bulan Syawal. Yaitu puasa selama enam hari. Sebagaimana disabdakan oleh baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari sahabat Abu Ayub yang berbunyi;
قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: "من صام رمضان ثم أتبعه ستًّا من شوال كان كصيام الدهر
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan secara penuh kemudian menggandengnya dengan berpuasa selama enam hari di bulan Syawal, seakan-akan seperti berpuasa selama setahun penuh.” (HR Muslim)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan makna hadits ini seraya mengatakan,”Para ulama menafsirkan hal itu (puasa setahun penuh, red) dengan alasan karena kebaikan dilipatgandakan sebanyak sepuluh kali. Maka puasa Ramadhan selama satu bulan dikalikan sepuluh menjadi seakan-akan berpuasa selama sepuluh bulan, dan puasa enam hari dikalikan sepuluh menjadi seperti enam puluh hari atau dua bulan. Berdasarkan hal ini disunnahkan bagi umat muslim apabila sudah menyempurnakan puasa Ramadhan agar berpuasa enam hari bulan Syawal.
Penting untuk diketahui bahwa puasa Syawal tidak dilakukan sebelum menyelesaikan hutang puasa Ramadhan. Yakni ketika seseorang memiliki hutang puasa sebanyak sehari, kemudian berpuasa enam hari bulan Syawal, dia tidak mendapatkan pahala itu (puasa setahun penuh, red). Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan secara penuh), dan orang yang masih punya hutang sehari tidak dikatakan berpuasa penuh, akan tetapi berpuasa pada hari-hari Ramadhan saja. Orang yang punya hutang sehari berarti hanya berpuasa 29 hari, dan orang yang punya hutang dua hari hanya berpuasa 28 hari, tidak sebulan penuh. Dan Rasul mengatakan,”Baransiapa yang berpuasa Ramadhan secara penuh kemudian berpuasa 6 hari bulan Syawal seakan-akan berpuasa setahun penuh.” (Syarh Riyadhus Shalihin 5/3030-304)
Oleh karena itu, momen bulan Syawal harus dijadikan bulan peningkatan amalan karena sudah terlatih selama bulan Ramadhan, dan masih ada lagi amalan lain yang sunnah untuk dikerjakan. Yaitu puasa selama enam hari bulan Syawal.
”badaa

Rabu, 06 Juli 2016

7 Kemungkaran di Hari Raya yang Harus Dihindari

Ketahuilah saudaraku sesama muslim –semoga Allah memberikan taufik kepadaku dan kepadamu- bahwa kebahagiaan yang ada pada hari raya, benar-benar membuat kebanyakan manusia lupa atau pura-pura lupa akan urusan agamanya, dan hukum-hukum keislamannya. Maka engkau melihat mereka terjatuh dalam maksiat, melakukan hal-hal mungkar, sedangkan mereka mengganggap bahwa mereka berbuat yang sebaik-baiknya. Di antara kemungkaran tersebut adalah :
  1. Berhias dengan cara mencukur jenggot. Ini adalah perkara yang banyak dilakukan oleh manusia. Mencukur jenggot diharamkan dalam agama Allah subhanahu wa ta’ala. Ditunjukkan oleh hadits-hadits shahih yang memuat perintah untuk membiarkannya tumbuh. Baik perintah itu bergandengan dengan alasan tasyabuh dengan orang-orang musyrik, dan oleh karena itu kita menyelisihi mereka. Atau tidak bergandengan dengan alasan apapun. Hal itu adalah fitrah yang tidak boleh kita rubah.
  2. Bersalaman dengan wanita ajnabiyah (bukan mahram). Hal ini adalah kebiasaan yang sudah menyebar di masyarakat. Tidaklah selamat dari hal tersebut kecuali orang yang dirahmati Allah. Hukumnya adalah haram, berdasar sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,”Ditusuknya kepada salah seorang dari kalian dengan jarum dari besi, lebih baik dibandingkan menyentuh wanita yang tidak halal baginya (HR Thabraniy)
  3. Bertasyabuh (meniru) orang-orang kafir dan orang-orang barat dalam hal berpakaian dan mendengarkan musik, serta kemungkaran yang lain. Sesungguhnya Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,”Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka”. HR Ahmad
  4. Bertabarruj (bersolek) bagi wanita, dan keluarnya mereka ke pasar dan tempat-tempat ramai yang lain. Hal ini diharamkan dalam syariat agama. Allah ta’ala berfirman;
وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ وَأَقِمۡنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعۡنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ ٣٣
“Hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya”. (QS al-Ahzab : 33)
Juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam,”Ada 2 penduduk neraka yang belum pernah aku melihat keduanya…..perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain condong kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk onta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak mencium bau wanginya surga. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu”. HR Muslim
  1. Mengkhususkan ziarah kubur pada saat hari raya, membagikan permen dan makanan di kuburan, duduk di atas kuburan, bercampur baur pria dan wanita, meratapi mayit, dan kemungkaran-kemungkaran yang lain.
  2. Berlebih-lebihan dan boros dalam perkara yang tidak bermanfaat, serta tidak memberikan maslahat dan faidah. Allah ta’ala mengingatkan;
”Janganlah kalian berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”. (QS al-An’am : 141).
  1. Banyak manusia yang meninggalkan shalat berjama’ah di masjid tanpa ada udzur syar’i. ada juga yang hanya melaksanakan shalat ‘id saja tanpa melaksanakan shalat-shalat yang lain. Demi Allah ini adalah salah satu bencana yang amat besar.

Diringkas dari Kitab Ahkamul ‘Idain pada Bab Munkaratul ‘Id, karya Syaikh Ali Hasan Al-Halabiy

Minggu, 03 Juli 2016

Doa Malam Lailatul Qadar

Malam lailatul qadar sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat-riwayat hadits jatuh pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Terutama pada malam-malam yang ganjil. Sudah sepantasnya seorang muslim untuk memperbanyak ibadah yang sunnah seperti sholat malam, membaca al-Qur’an, berdzikir, serta berdoa meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Redaksi Doa Malam Lailatul Qadar

Di antara doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk umatnya ketika menjumpai Lailatul Qadar adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah radiyallahu ‘anha;

“Wahai Rasulullah, apa pendapatmu kalau aku mendapati lailatul qadar, doa apa yang harus kubaca?”
“Bacalah;
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
ALLAAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNII
Artinya : Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun dan menyukai namaMu (al-‘Afwu), maka ampunilah kami[1].

Bimbingan nabi agar berdoa dengan redaksi seperti di atas menunjukan pentingnya isi doa di malam yang pernuh berkah tersebut.

Makna dan Hikmah Doa Malam Lailatul Qadar

Al-‘Afwu adalah salah satu nama Allah. Makna dari doa tersebut adalah adalah meminta kepada Allah al-Afwu agar diampuni dosa-dosanya dan tidak mengadzab hambaNya karena dosa-dosa yang telah diperbuat. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Qurthubi,”al-Afwu adalah ampunan yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada hambaNya. Bisa diberikan sebelum jatuhnya hukuman atau setelahnya, berbeda dengan ghufron. Adapun ghufron adalah ampunan yang diberikan tanpa diberikan hukuman sedikitpun.”[2]
Sedangkan makna dari Tuhibbul ‘afwa adalah bahwa Allah Ta’ala mencintai nama dan sifat-sifatNya, dan mencintai hamba-hambaNya yang beribadah dengan perantaraan nama dan sifat tersebut, serta beramal dengan konsekuensi yang ada dari nama dan sifat-sifatNya (al-‘Afwu).
                Adapun rahasia mengapa didahulukan penyebutan nama Allah sebelum isi doa, yaitu menyebutkan nama al-‘Afwu sebagai bentuk tawassul dengan namaNya sebelum memohon yang diinginkan[3].
                Ibnu Rajab menjelaskan hikmah mengapa pada malam laitul qadar disyariatkan doa meminta pengampunan dari Allah Ta’ala. Beliau mengatakan,”Hanya saja diperintahkan untuk meminta ampunan pada malam lailatul qadar –setelah beramal pada malam tersebut dan sepuluh hari terakhir- karena orang yang berilmu tahu bahwa kerja kerasnya melakukan berbagai amalan bukanlah apa-apa, masih banyak kekurangannya. Sehingga ia kembali untuk memohon ampunan, seperti halnya orang yang berdosa dan bersalah[4].”
                Jangan sia-siakan kesempatan untuk mendapatkan malam lailatul qadar di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Karena kita tidak pernah tahu apakah masih sempat untuk bertemu dengan Ramadhan selanjutnya. Mintalah ampunan kepada Allah sesungguhNya Allah Maha Pengampun.



[1] (HR Tirmidzi, Kitab ad-Da’awaat, Bab Hadatsanaa Yusuf bin Isa, no. 3513, an-Nasa’i dalam al-Kubro no. 7712, Ibnu Majah no. 3850, musnad Ahmad 42/236 no. 25384, dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidziy 3/170)
[2] Tafsir al-Qurthubiy 1/797
[3] www.kalemtayeb.com/index.php/kalem/safahat/item/3116
[4] Lathaiful Ma’arif hal. 206

Rabu, 22 Juni 2016

Tolonglah Saudaramu Yang Dzalim



Apabila suatu saat kita melihat seseorang dengan seenaknya membuang sampah di trotoar, padahal di dekatnya tergeletak tong sampah. Dalam penilaian kita apakah perbuatan tersebut dapat kita benarkan? Jawabannya tentu saja tidak, membuang sampah seharusnya di tempat sampah bukan di trotoar. Itulah sedikit gambaran dari sebuah perbuatan yang dinamakan kedzaliman, yaitu meletakan sesuatu tidak pada tempatnya.
 Kedzaliman bertingkat-tingkat bentuknya, dari tingkat paling rendah sampai tingkat tertinggi. Sehingga orang-orang yang berbuat kedzaliman akan menerima balasan yang ngeri tak berperi.  Allah ta’ala menceritakan kesudahan bagi orang-orang yang dzalim dalam ayatNya yang berbunyi;
إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (42)
“Sesungguhnya jalan bagi orang-orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampui batas di muka bumi tanpa hak, bagi mereka adzab yang pedih”. (QS. Asy-Syuro : 42)

Senin, 20 Juni 2016

Setan Adalah Musuh, Jadikanlah Sebagai Musuh



Seperti yang telah kita ketahui bersama, manusia yang paling pertama diciptakan sudah memiliki musuh. Awalnya mereka bertetangga di suatu tempat yang sangat indah. Akan tetapi karena suatu hal tetangga itu berubah menjadi musuh. Musuh ini memiliki karakteristik unik, ia dapat mengintai seluruh aktifitas manusia, akan tetapi manusia tidak dapat melihatnya. Musuh ini juga memiliki keistimewaan untuk menyerang manusia melalui jalan aliran darah. Yang paling ngeri, musuh ini berusaha tiada henti siang, malam, pagi, sore bahkan sampai hari kiamat, untuk menggelincirkan manusia dari jalan yang lurus, menuju jalan kebinasaan. Siapakah musuh manusia ini??? Musuh itu bernama SETAN atau IBLIS.