Kamis, 19 Mei 2016

2 Wasiat Agung Luqman al-Hakim Untuk Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Wasiat yang berharga tak mesti berbentuk harta, namun wasiat yang menyentuh hati adalah wasiat yang sangat berharga bagi siapapun. Ada wasiat yang diabadikan oleh Allah tabaraka wa ta’ala di dalam Al-Qur’an. Berasal dari seorang ayah yang shalih kepada putera terkasihnya. Wasiat tersebut adalah sebagai berikut :
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".”(QS Luqman : 13)
                Wasiat yang pertama adalah larangan untuk berbuat kesyirikan. Berbuat syirik artinya mempersembahkan ibadah yang seharusnya khusus bagi Allah, kepada yang lain. Baik itu benda hidup atau benda mati. Dalam ayat ini dikatakan sebagai kedzaliman yang paling besar, karena arti dzalim adalah ‘menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya’. Orang yang berbuat syirik berarti telah menempatkan ibadah tidak pada tempatnya. Ibadah yang seharusnya bagi Allah saja, akan tetapi malah ditujukan kepada selain Allah.
Mengapa kesyirikan menempati wasiat pertama? Jawabannya karena kesyirikan memiliki bahaya yang sangat menakutkan. Di antara bahaya kesyirikan :
  1. Orang yang berbuat kesyirikan dan tidak bertaubat dari perbuatan tersebut sebelum meninggal tidak akan diampuni oleh Allah ta’ala;
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisa : 48)
  1. Seluruh amalan kebaikan yang dilakukannya tidak akan diterima oleh Allah, hanya akan menjadi sia-sia bagaikan debu yang berterbangan.
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan : 23)
  1. Diharamkan surga bagi orang-orang musyrik.
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maidah : 72)

   Contoh nyatanya apa yang terjadi ketika terjadi panen, bukannya bersyukur kepada Allah tetapi ada sebagian orang membuat sesajen kemudian meletakkannya di pojok-pojok sawah sebagai persembahan kepada Dewi Sri. Padahal Allah ta’ala yang memberikan mereka panen melimpah.
                Lalu ada juga acara larung kepala kerbau ke Laut selatan, diberikan kepada Nyi Roro Kidul dengan harapan agar terhindar dari malapetaka. Menyembelih merupakan salah satu bentuk ibadah, apabila diberikan untuk Nyi Roro Kidul maka ini jelas kesyirikannya. Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya hanya Allah saja yang mampu melindungi hamba-hambaNya dari malapetaka. Mengapa mereka malah meminta pertolongan kepada selain Allah.
                Termasuk kesyirikan adalah riya’, karena orang yang berbuat riya ia mengharap pujian orang lain dalam ibadahnya. Sehingga ibadah yang seharusnya ditujukan kepada Allah malah dibuat untuk mencari pujian dari Allah, dan tidak mengharapkan keridhoanNya. Hukuman bagi orang yang riya’ dalam beramal ia akan disungkurkan wajahnya ke dalam neraka. Sebagaimana ditunjukan dalam hadits yang bercerita tentang orang yang berjihad, mempelajari ilmu, serta menjadi qari’.
Wasiat yang kedua adalah perintah untuk berbakti kepada kedua orangtua;
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”(QS Luqman : 14)
Pada ayat ini Luqman menggandengkan wasiatnya agar puteranya beribadah kepada Allah kemudian berwasiat untuk berbakti kepada kedua orangtua. Karena besarnya hak kedua orangtua. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, sedangkan ayahnya telah memberikan nafkah bagi anaknya. Sehingga keduanya mempunyai hak atas anak mereka, yaitu agar mereka bersyukur kepada Allah kemudian kepada kedua orangtuanya.
Yang dimaksud dengan berbakti kepada kedua orangtua adalah sebagai berikut:
برهما يكو بطاعتهما فيما يأمران به ما لم يكن بمحظور، وتقديم أمرهما على فعل النافلة، والاجتناب لما نهيا عنه، والإنفاق عليهما، والتوخي لشهواتهما، والمبالغة في خدمتهما، واستعمال الأدب والهيبة لهما، فلا يرفع الولد صوته، ولا يحدق إليهما، ولا يدعوهما باسمهما، ويمشي وراءهما، ويصبر على ما يكره مما يصدر منهما.
          Mentaati perintah keduanya selama bukan berupa maksiat, mendahulukan perintah keduanya dibanding amalan sunah, meninggalkan apa yang mereka larang, memberi nafkah kepada keduanya, memenuhi keinginan keduanya, banyak membantu pekerjaannya, bertatakrama, tidak mengeraskan suara dihadapan keduanya, tidak membohonginya, tidak memandangnya dengan tajam, tidak memanggil dengan namanya saja, berjalan di belakangnya, dan bersabar terhadap hal-hal yang tidak disukai dari keduanya.
                Marilah kita lihat potret para ulama dalam berbakti kepada kedua orangtuanya. Suatu hari Ibnu Umar melihat seseorang yang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar,”Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas semua kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab,”Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan. (Al-Kabaa’ir)
                Haiwah binti Syuraih adalah seorang ulama besar, suatu hari ketika beliau sedang mengajar, ibunya memanggil. “Hai Haiwah, berdirilah! Berilah makan ayam-ayam dengan gandum.” Mendengar panggilan ibunya beliau lantas berdiri dan meninggalkan pengajiannya. (al-Birr wash shilah)
            Jangan sampai kita menjadi orang yang merugi ketika orangtua kita masih sehat tapi tidak bisa menambah pundi-pundi pahala kita. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam;
«رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ» قِيلَ: مَنْ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا، ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ»
“Sungguh celaka, sungguh celaka, sungguh celaka ! siapa wahai Rasulullah? :”Siapa saja yang mendapati orangtuanya ketika sudah tua, salah satu atau keduanya tapi tidak bisa masuk surga.” HR Muslim
                Semoga kita dimudahkan oleh Allah ta’ala untuk melaksanakan wasiat terindah yang keluar dari lisan seorang hamba yang shaleh. Lukman al-Hakim kepada putranya. Tentunya wasiat ini sumber kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Oleh : Djati Purnomo


Related Posts

0 komentar: